Program

PENDAYAGUNAAN IPTEK LINTAS SKTORAL; ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM

Secara global eksistensi dan fungsi danau sangat penting dan telah disepakati sebagai salah satu elemen kunci dalam berbagai proses perbaikan lingkungan dunia dan perubahan iklim.  Di Indonesia ekosistem danau memberi peran strategis dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan ekologi masyarakat. Namun dalam banyak kasus; peran, fungsi dan manfaat danau di Indonesia mengalami penurunan dengan kondisi memprihatinkan, dimana telah terjadi degradasi yang sangat signifikan dan bahkan diprediksi beberapa danau yang ada saat ini akan hilang. Hal ini mendorong pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup; menyelenggarakan Konferensi Nasional Danau Indonesia (KNDI) I 2009 di Bali, ditindaklanjuti dengan KNDI II pada 2011 di Semarang yang kemudian melahirkan sebuah Gerakan Penyelamatan Danau (GERMADAN) Indonesia. Fokus penyelamatan danau diprioritaskan pada 15 Danau Nasional,  yaitu;    Danau  Toba,  Danau  Maninjau,  Danau  Singkarak,  Danau  Kerinci, Danau Tondano, Danau Limboto, Danau Poso, Danau Tempe, Danau Matano, Danau Mahakam (Semayang, Jempang, Melintang), Danau Sentarum, Danau Sentani, Rawa Danau, Danau Batur dan Danau Rawa Pening.

Salah satu danau yang harus segera diselamatkan adalah Danau Limboto Provinsi  Gorontalo.  Permasalahan utama  danau  ini  adalah  pertumbuhan  eceng gondok yang menutupi ± 70 % badan danau dan tingginya tingkat erosi sedimentasi hingga berdampak pada pendangkalan dan menurunnya luasan danau. Berbagai program dan pendekatan telah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut namun belum menunjukkan satu keberhasilan dan bahkan sebaliknya banyak program kegiatan konservasi mengalami kegagalan. Untuk itu pada 2015 KEMENRISTEKDIKTI sebagai salah satu institusi pemerintah yang terlibat dalam kesepakatan KNDI I dan II, mengambil   peran   dan   inisiatif   untuk   melakukan   kajian   Danau   Limboto   guna mereview masalah yang ada dan mencoba mencari alternatif baru melalui pendekatan teknologi dalam mengatasi masalah dengan pola memanfaatkan eceng gondok dan sedimen sehingga dapat bernilai ekonomis bagi masyarakat, membuka peluang kerja baru dan menghambat laju degradasi danau. KARST dipercaya sebagai Lembaga yang melakukan kajian dan atau studi Danau Limboto yang hasilnya dijadikan sebagai Rekomendasi Kebijakan Pengelolaan Danau Berkelanjutan Berbasis IPTEK. Kegiatan dilakukan pada periode Agustus 2015-Februari 2016.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *