Program

PENGEMBANGAN ENERGY BARU DAN TERBARUKAN BIOGAS

cover-biogas-karstIndonesia memiliki kawasan hutan ke delapan terluas di dunia dan merupakan kawasan tropis terluas ketiga di dunia. Luas kawasan hutan dan perairan seluruh Indonesia berdasarkan data pengukuhan kawasan 2011, adalah 130,68 juta ha. Menurut fungsinya kawasan tersebut terdiri dari; Hutan Konservasi (HK) seluas 26, 82 juta ha, Hutan Lindung (HL) seluas 28,86 juta ha, Hutan Produksi (HP) 32,60 juta ha, Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas 24,46 juta ha, dan Hutan Produksi yang dapat dikonversi (HPK) adalah 17,94 juta ha (Yasman  dan Soeprihanto  2014).  Dengan  potensi itu,  tidak  saja  menjadikan  hutan  tropis Indonesia menjadi penting dalam memenuhi kebutuhan  hidup  manusia (barang dan jasa) tetapi sangat urgen dalam menjaga keseimbangan alam dan kehidupan yang ada di dalamnya.

Meskipun keprihatinan akan dampak lingkungan, sosial dan ekonomi dari meluasnya kerusakan  hutan  tropis, tetap  saja  tingkat  kerusakan  hutan  dan  lahan  meningkat  drastis. Kerusakan itu menimbulkan lahan kritis, yang keadaan fisiknya demikian rupa sehingga lahan tersebut tidak dapat berfungsi secara baik sesuai dengan peruntukannya sebagai media produksi maupun sebagai media tata air. Hasil inventarisasi Departemen Kehutanan atas indikasi luas hutan dan lahan kritis pada tahun 2000 dan 2003 meningkat drastis, yaitu dari 56,98 juta ha di tahun 2000 menjadi 100,6 juta ha di tahun 2003. Sementara berdasarkan data Statistik Kehutanan tahun 2006 menunjukkan bahwa kawasan hutan dan lahan yang mengalami kerusakan lebih dari 67,64 juta ha; terdiri dari 39,12 juta ha dalam kawasan hutan dan 28,52 juta ha di luar kawasan hutan (Laporan hasil periksaan GNRHL BPK RI 2008). Dalam konteks deforestasi kawasan hutan, kerusakan tidak saja terjadi pada satu atau beberapa  Provinsi,  tetapi  hampir  di  semua  Provinsi  di  Indonesia  termasuk  di  Kabupaten Muna  Sulawesi  Tenggara.  Luas  hutan  di  Kabupaten  Muna  berdasarkan  SK  MENHUTBUN Nomor 454/ Kpts-II/1999 adalah 107.119,82 ha (data sebelum pemekaran), yang terdiri dari; Hutan Lindung seluas 36.899,28 ha, Hutan Konservasi seluas 6.480,44 ha dan Hutan Produksi seluas 33.163,97 ha (HPK seluas 29.418,29 ha dan HPT seluas 1.157,84 ha). Pada kondisi faktual, hutan dengan berbagai fungsinya tersebut telah mengalami tingkat degradasi yang sangat memprihatinkan. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Sampara Sulawesi Tenggara menyebutkan, bahwa: pada tahun 2004 luas lahan kritis di Kabupaten Muna (Hutan Lindung dan Hutan Produksi) adalah: 53.839 ha. Dengan rincian; di hutan lindung terdapat 16.852 ha lahan kritis dan 7.085 ha sangat kritis, sementara  di hutan produksi, seluas 25.992 ha lahan kritis dan 3.910 ha sangat kritis. Kondisi memprihatinkan dari fenomena ini adalah bahwa sebagian  dari  deforestasi disebabkan oleh  tingginya illegal  logging  yang  dilakukan masyarakat hanya untuk menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Mencermati fenomena itu, Lembaga KARST mengembangkan BIOGAS sebagai Energy Baru dan Terbarukan, dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengurangi penggunaan bahan bakar kayu dan minyak tanah, yang dengan demikian ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar kayu dan minyak (konvesional) berkurang, dimana pada sisi yang lain juga ekonomi masyarakat dapat meningkat melalui pemanfaatan limbah BIOGAS sebagai pupuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *