Program

PENYADARTAHUAN LINGKUNGAN PADA MASYARAKAT DAN PELAJAR

penyadar-lingkungan-karstMerujuk pada Status Lingkungan Hidup Indonesia 2012 menunjukkan bahwa ditahun 2000-2011 telah terjadi degradasi hutan seluas 6,5 juta ha dimana di tahun 2000 luas tutupan hutan adalah   104.747.566 sedangkan ditahun 2011 menurun menjadi 98.242.002 ha. Demikian halnya dengan lahan kritis yang meningkat akibat kerusakan hutan yaitu dari 23.242.881 ha di tahun 2000 menjadi 27.294.845 ha di tahun 2011; ada peningkatan luas lahan kritis sebesar 4.051.964 ha selama 11 tahun. Sementara terkait dengan sampah, jumlah volume sampah di Indonesia sangat signifikan. Hasil riset Jenna Jambeck 2017-peneliti dari Universitas Georgia Amerika– yang dipublikasi oleh jurnal Science menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara kedua setelah Tiongkok sebagai penyumbang sampah terbesar, yaitu 3.2 juta ton.

Sejalan dengan pernyataan Jenna Jambeck, Kementerian Lingkungan Hidup (2012) menyebutkan bahwa rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari total jumlah penduduk. Di tahun 2010 saja misalnya, volume sampah per hari mencapai 200.000 ton yang kemudian di tahun 2012 meningkat menjadi 490.000 ton per hari atau 178.850.000 ton setahun. Dari total sampah tersebut,   50 persen lebih bersumber dari sampah rumah tangga. Sementara Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebutkan bahwa  volume sampah di Indonesia  berkisar 1 juta meter kubik setiap hari, dimana hanya   42 persen yang bisa   terangkut dan diolah dengan baik. Sebaliknya sampah yang tidak diangkut setiap hari mencapai   348.000 meter atau sekitar 300.000 ton; dalam kondisi terurus oleh masyarakat secara swadaya, atau tercecer dan juga secara sistematis terbuang disembarang tempat. Kementerian Lingkungan Hidup (2012) juga menyatakan bahwa baru sekitar 24,5 persen sampah ditangani secara benar, yaitu diangkut  petugas  kebersihan  dan  dikomposkan  sementara  sisanya  (75,5  persen) belum ditangani dengan baik. Fakta ini diperkuat dengan temuan RISKESDAS 2010 (Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs) yang menyatakan  bahwa rumah tangga umumnya menerapkan enam metode penanganan sampah, yaitu: diangkut petugas kebersihan (23,4 persen), ditanam (4,2 persen), dikomposkan (1,1 persen), dibakar (52,1 persen), dibuang di selokan, sungai, dan atau laut (10,2 persen), dan dibuang sembarangan tempat (9 persen).

Mencermati  persoalan  ini,  KARST  difasilitasi  oleh  Community  Outreach  dan Awareness  Zoological  Society  of   London   melalui  proyek  Kemitraan  Pengelolaan Lanskap Sembilang Dangku melakukan kegiatan Penyadartahuan lingkungan di Kabupaten  Musi Banyuasin dan Banyuasin. Pola Kerjasama yang dilakukan adalah KARST menjadi Narasumber dalam berbagai kegiatan Penyadartahuan baik yang dilakukan  pada  masyarakat  umum  maupun  pelajar.  Kegiatan  dilakukan  sejak  Juli 2018-Mei 2019, dengan tujuan: (1) meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat  terhadap  lingkungan  khususnya hutan dan sampah, (2) meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan hutan lestari dan sampah yang berkelanjutan, dan (3) mendorong perubahan sikap masyarakat dalam hal pengelolaan hutan dan sampah.

penyadar lingkungan karst 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *