Program

PROGRAM REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN DAS HL MUSI

program-karst-indonesiaProgram ini lahir dari  fenomena  meningkatnya  tingkat degradasi  hutan  dan lahan.  Berdasarkan Citra Satelit Landsat 7 ETM+ pada 2000-2011 luas tutupan hutan Indonesia mengalami penurunan dari 104.747.566 hektar pada 2000, menjadi 98.242,002 hektar pada 2011, dan atau terjadi deforestasi seluas 6,5 juta hektar selama 11 tahun. Implikasi dari degradasi kawasan hutan tersebut adalah meningkatnya kejadian bencana alam, dimana sepanjang tahun 2012 BNPB mencatat ada 730 kejadian dengan korban meninggal dunia sebanyak 437 orang, sementara yang mengungsi  akibat bencana itu  berjumlah  675.798.  Bencana  alam  juga menyebabkan 33.847 rumah rusak berat, 4.587 rusak sedang, dan 21.369 rusak ringan. Hal lain yang sangat serius adalah terjadinya peningkatan bencana hidrometeorologi (banjir disertai tanah longsor, dan juga kekeringan). Dalam konteks kekeringan misalnya, BNPB mencatat bahwa pada 2010 hanya ada 2 bencana kekeringan, sementara di tahun 2011 ada 217 bencana. Demikian halnya dengan banjir, dimana pada 2010 ada 191 kejadian sementara di tahun 2011 ada 352 kejadian.

Dalam konteks Sumatera Selatan, laju degradasi hutan dan lahan juga sangat tinggi, dimana di tahun 2015 misalnya, total kebakaran hutan dan lahan mencapai 736.563 ha, sementara di tahun 2016 Kebakaran Lahan dan Hutan kembali terjadi dengan luas 976 ha. Di tahun 2017 kebakaran mencapai 9.286 ha dan pada periode 2018  Karhutla meningkat  menjadi  37.361  ha. Mencermati  fenomena  itu,  KARST dipercaya oleh BPDAS HL Musi Sumatera Selatan untuk terlibat dalam Kegiatan Rehabilitasi Hutan Dan Lahan dengan tanggungjawab sebagai Pendamping Masyarakat. Kegiatan dilakukan di 5 Kabupaten, yaitu: Lahat, Oku, Pagar Alam, Oku Selatan, dan Muara Enim; dengan total jumlah Blok adalah 24 Blok penanaman di areal Daerah Aliran Sungai. Desa-Desa yang menjadi wilayah dampingan KARST adalah Desa Mangun Sari, Muara Gelumpai, Muara Jauh, Talang Tinggi, Bunga Tanjung,  Bumi  Kawa, Sukaraja,  Candi Jaya,  Burung  Dinang, Muara  Emil, Pandang  Aran  Ulu,  Tunggul  Bute, Singapure,  Sumber  Jaya,  Muara Payang  dan Pandu Agung. Adapun tujuan program ini adalah mempercepat upaya untuk memulihkan, mempertahankan, dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan melalui kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan pada DAS prioritas. Pada tahap I ini (Tahun Pertama; Juni 2019-Juni 2020), KARST mendapat dukungan dana sebesar 1.454.520.000; yang semuanya bersumber dari APBN melalui BPDAS HL Musi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *