KARST

Tentang Kami

KARST merupakan Organisasi Non Pemerintah dan atau NGO (Neo Government Organization)  yang perjuangannya  menitikberatkan  pada Perwujudan Cita-Cita Nasional melalui Gerakan Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kinerjanya diarahkan  pada  capaian  yang  terukur,  obyektif  dan transparan, yang didesain secara tegas, independen dan berintegritas, guna mengembalikan  esensi  khitah perjuangan  NGO  Lingkungan sesungguhnya dalam mewujudkan kelestarian dan keharmonisan hidup antara manusia dan alam secara berkelanjutan.

Visi dan Misi

Visi: Menegakkan Pilar Kejujuran dan Kebenaran dalam menciptakan system pengelolaan hutan dan lingkungan sebagai sebuah ekosistem, yang menjamin pemenuhan kebutuhan hidup manusia akan barang dan jasa secara adil, transparan, akuntabel, taat hukum, optimal, dan berkelanjutan dalam perspektif sosial, ekonomi, budaya, dan ekologi.

Misi:

  1. Merestorasi dan melestarikan hutan dan Daerah Tangkapan Air (DTA)/ DAS secara optimal dan berkelanjutan.
  2. Menerapkan dan mempromosikan praktek konservasi hutan dan lingkungan secara optimal dan berkelanjutan yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi dan kearifan lokal.
  3. Melestarikan dan meningkatkan mutu lingkungan pesisir, ekosistem laut dan atau danau secara optimal dan berkelanjutan.
  4. Menerapkan dan mengembangkan energy baru dan terbarukan secara optimal dan berkelanjutan.
  5. Membangun dan mengembangkan  kegiatan  ekowisata  secara  optimal  dan berkelanjutan.
  6. Memberdayakan masyarakat melalui pelatihan dan penyadaran lingkungan secara optimal dan berkelanjutan.
  7. Melakukan advokasi untuk mempengaruhi dan mendorong kebijakan negara yang adil dan demokratis dalam implementasi penatakelolaan hutan dan lingkungan yang optimal dan berkelanjutan.
 

Sejarah Lembaga

Lembaga KARST, meskipun telah terbentuk pada tanggal 1 Agustus 2015 oleh beberapa aktivis lingkungan Nasional dan Sumatera Selatan. Kemunculannya diawali dari diskusi para aktivis yang kecewa atas kinerja mayoritas LSM Lingkungan Indonesia yang dianggap oportunis, hipokrit dan belum mampu memberi kontribusi positive dalam mendukung Perwujudan Cita-Cita Nasional Melalui Gerakan Konservasi Hutan dan Lingkungan. Dicatat bahwa meskipun eksistensi LSM di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1970-an atau lebih dari 40 tahun, namun secara faktual mereka belum mampu memberikan prestasi dalam pengelolaan sumber daya alam. Disisi yang lain, pertumbuhan dan kucuran dana program untuk mereka sangat besar. Alawiyah dan Scanlon menyatakan (2014) bahwa ada sekitar 2.293 LSM yang aktif, dimana hampir semua daerah di Indonesia terdapat LSM. Selanjutnya, pada Tahun 2013 menurut Scanlon dan Alawiyah   (2014)   sektor   LSM   di   Indonesia   secara   keseluruhan   memiliki pendapatan sebesar AU$ 340 juta atau 3,4 triliyun.

Walaupun dana bantuan yang diberikan pada LSM lingkungan sangat besar sebagaimana paparan di atas, namun sejauh ini mereka belum bisa memberikan kinerja yang efektif dan Sustainable dalam pengelolaan sumberdaya alam. Mengacu pada data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa deforestasi pada kurun waktu 1996-2000 mencapai 3,51 juta  hektar  per tahun. Diperiode berikutnya  meskipun terjadi penurunan di tahun  2002-2014,  namun kerusakan kembali  terjadi pada  2014-2015,  yaitu sebesar 0,82 juta per hektar -diantaranya disebabkan oleh kebakaran hutan pada Tahun 2015-. Selanjutnya,  pada tahun 2015-2016 kerusakan terjadi lagi seluas 0,63 juta hektar, dan pada periode 2016-2017 laju deforestasi mencapai 0,31 juta hektar.

Dalam kasus lainnya, merujuk pada Laporan BPK RI 2008 disebutkan bahwa keterlibatan LSM Lingkungan dalam Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) 2003-2007 bersama Pemerintah mengalami kegagalan. Di Jawa Barat misalnya, realisasi fisik kegiatan GNRHL tahun 2003-2006 tidak tercapai, dimana luas lahan yang direhabilitasi adalah 200.005 Ha, dari target lahan yang seharusnya 580.397 Ha. Kerugian negara di daerah itu mencapai Rp. 3.635.517.900,00.  Sementara di Jawa Timur,  realisasi fisik  kegiatan GNRHL mencapai 69.283 Ha, dari target lahan seluas 365.080 Ha, dengan kerugian negara mencapai Rp. 12.408.517.475,00. Mencermati fenomena itu, Lembaga KARST hadir  sebagai  salah  satu  Gerakan  Baru  Organisasi  Non  Pemerintah (NGO) di Indonesia, yang perjuangannya menitikberatkan pada Perwujudan Cita- Cita  Nasional  melalui  Gerakan  Konservasi  Hutan  dan  Lingkungan  dengan capaian yang terukur, obyektif dan transparan, yang didesain secara tegas, independen dan berintegritas.

Lambang KARST

Lambang KARST  didesain oleh Ahmad Jalaluddin Dahiru, ST, MT dan La Ode Muhammad Rabiali, S. Hut, M. Sc, yang terdiri dari 5 Huruf Kapital, yaitu; KARST. Huruf ‘A’ dibuat menyerupai Helaian Daun dengan 2 warna, yaitu Merah dan Hijau. Daun memberi makna bahwa KARST merupakan Lembaga yang berkomitmen untuk melestarikan hutan dan lingkungan. Sedangkan Warna Merah merupakan Simbol Keberanian dan Semangat KARST untuk menyuarakan dan menegakkan Pilar Kejujuran, Kebenaran dan Keadilan dalam Mewujudkan Cita-Cita Nasional sebagaimana yang tertuang pada Undang- Undang Dasar 1945 melalui Gerakan Konservasi Hutan dan Lingkungan. Sementara Warna Hijau dimaknai sebagai Simbol Alam dan atau lanskap. Dibawah kata KARST tertulis Motto Lembaga, yaitu: Bersama Melestarikan Alam. Hal ini bermakna bahwa dalam setiap Pencapaian Visi dan Misi Organisasi, Lembaga  KARST akan mewujudkannya dengan Prinsip  Kebersamaan melalui pelibatan masyarakat secara aktif dan atau partisipatif. Selanjutnya, dibawah tulisan Alam pada motto terdapat Helaian Daun, yang juga merupakan simbol hutan dan lingkungan.

Karst-indonesia

Pin It on Pinterest